The Inside You

Forgive


“It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend.” ― William Blake

Pernah kecewa?

Pertanyaan bodoh ya? haha..

Gue yakin banget semua orang pernah kecewa dengan keyakinan yang sama besarnya kayak gue yakin bahwa Olga itu gay; atau kayak gue yakin bahwa gak semua personil JKT48 itu perawan.
Dan gue juga pernah kecewa.

Kisruh perpacaran, hasil ujian di kampus, komentar bos di kantor, sampai ke masalah keluarga pernah menjadi penyebab kekecewaan gue. Dan sejak gue memulai blog ini gue jadi sering mikir, dan salah satu hal yang gue pikirin adalah: Kekecewaan mana yang terbesar pernah gue alami? Mana yang akhirnya menjadi turning point buat gue? Mana yang akhirnya membuat gue gagal move on? Mana yang akhirnya membuat gue belajar sesuatu?

Gak mudah buat langsung tahu jawabannya. Karena gue harus kembali mengingat satu per satu kenangan buruk itu. Dan bukan sekedar ingat, kadang seperti bau jamu yang kita gak suka, aroma dan ‘rasa’ nya bisa tiba-tiba hidup. Bikin galau instant tanpa perlu diseduh.

Gue ingat-ingat tiap moment konyol dan perih itu. Kayak mencari box yang udah lama ditaro di dalam gudang, dan begitu ketemu dan kita buka, kadang debu nya berterbangan ke muka. Nyebelin, bikin sesak.

Setelah lama ngerenung, ternyata ketemu.
Dan ternyata kekecewaan terbesar gue malah disebabkan oleh diri gue sendiri.
Mungkin bukan secara langsung. Karena gue menyadarinya beberapa lama kemudian. Disaat kekecewaan itu berubah menjadi penyesalan.

Sejak kecil gue gak pernah tau mau jadi apa kalau udah gede. Jawaban gue biasanya ngikutin jawaban temen-temen aja. Pas TK, tiap ditanya cita-cita gue jawab Astronot. Karena temen sebelah meja gue jawab itu. Pas SD juga gitu. Pas ditanya, jawabannya berubah jadi arsitek. Karena temen-temen gue saat itu pengennya jadi Arsitek. Bahkan gue pernah jawab “Tukang Bubur” pas ditanya tetangga sebelah rumah, soalnya kebetulan ada tukang bubur lagi lewat.

Dan ketidaktahuan gue ini berlanjut, bahkan sampai milih jurusan kuliah dan kampus. Gue kuliah di Atmajaya Jakarta, ambil jurusan Business Administration. Kenapa di Atmajaya? Karena kakak gue pernah kuliah disana, jadi bokap nyokap gue menyarankan disana. Dan gue nurut. Kenapa Business Administration? Karena gak sengaja. Dulu gue punya temen di friendster yang waktu itu baru abis posting bulletin board yang isinya pertanyaan dan dijawab sendiri. Yang hidup dan gaul di jaman friendster pasti tau ini.
Nah gue baca posting-an dia, dan gue baca dia baru daftar kuliah di Atmajaya juga. Akhirnya gue tanya dia ambil jurusan apa, dan dia jawab Business Administration. Dan dengan sederhana, otak gue menjawab “Yaudah ambil itu aja”. Gitu doang.

Tapi gue gak nyesel masuk sana. Karena disana gue bisa ketemu banyak makhluk ajaib dan mengesankan. Dan disana juga gue memulai mimpi gue sendiri. Ngeband.

Gue mulai ngeband memang sejak SMA, tapi beneran pengen gue seriusin pas kuliah. Karena sejujurnya gue gak pernah tau mau jadi apa kalau nanti lulus. Pas jaman kuliah gue bergabung sama band tanpa nama yang dirintis salah satu bassist ternama ibukota bersama teman-temannya. Katanya sih dia liat gue main piano di Facebook dan suka dengan gaya main gue.

Singkat cerita, akhirnya gue gabung hingga akhirnya mulai serius dan bisa sign kontrak sama salah satu label besar di Indonesia. Gue seneng bukan main! Gimana enggak, itu mimpi gue. Satu-satunya hal yang gue mimpikan sendiri, bukan karena orang lain, bukan karena ikut-ikutan. Dan hampir tercapai!
Disaat itu gue juga mau lulus kuliah. Jadi gue dengan semangat mempercepat lulus gue satu semester lebih cepat dibandingkan yang seharusnya. Kerja keras untuk sesuatu yang bener-bener gue pengen. Gue gak ingin ada beban disaat gue memulai kontrak itu.

Nah masalah ternyata baru dimulai disitu. Gue udah lulus, dan menjalani hidup sebagai ‘musisi’. Kenapa pakai tanda kutip? Karena sebenarnya sampai sekarang gue merasa bukan musisi. Gue memang menyukai musik, gue sangat menyukai menulis lagu. Tapi gue gak mahir main satu instrument sampai ke level spesial. Gue biasa-biasa aja. Bikin gue agak minder. Gue belajar piano, drum, gitar, trompet, dan teknik rekaman secara otodidak. Beda sama teman-teman gue di lingkungan baru ini. Mereka udah bertahun-tahun mendalami ini, bahkan ada yang lulusan salah satu sekolah musik terkenal. Gue gak ada apa-apanya dibanding mereka. Yang gue punya cuma niat tulus.

 “Forgiveness is the mightest sword, is the highest reward. When they bruise you with words, when they make you feel small, when it’s the hardest to take…..you must do nothing at all.” – Jane Eyre

Band gue udah punya single, dan kata pihak label sih udah di rilis. Tapi gue sendiri gak pernah dengar di radio. Entah salah dimana, tapi yaaa…..begitu.
Gue malah lebih sering diajak manggung sebagai addtional band sahabat-sahabat gue di Nixie. Gue diajak manggung di panggung-panggung besar di luar kota, tampil di TV, bahkan bareng mereka gue bisa ikut ngerasain tur 17 kota se-pulau Jawa dan disponsorin salah satu merk rokok terkenal. Bukan tur tunggal sih, tapi tur 2 band bareng: Nixie dan The Virgin. Meski gue cuma bagian kecil, tapi itu sangat luar biasa buat gue yang biasa-biasa aja ini.

Dihari terakhir tur, gue bertanya ke Tuhan dan diri gue sendiri, “Semua mimpi pasti berakhir. Dan apakah mimpi ini harus berakhir?”

“Dreaming about being an actress, is more exciting then being one.” ― Marilyn Monroe

Sampai sekarang gue gak pernah tau apa jawaban Tuhan untuk pertanyaan gue itu.

Yang gue tau, setelah pulang tur itu gue jadi galau maksimal. Band gue ‘bubar jalan’. Masing-masing personil entah kemana. Tanah yang gue injak siap longsor. Pilihannya: lari, atau jatuh.

Dan gue memilih lari.

Sekarang gue bukan ‘musisi’ lagi. Gue karyawan di salah satu perusahaan internasional asal korea yang bergerak di industri elektronik. Sesekali gue masih nulis lagu, atau cuma sekedar nyanyi dan gue upload ke SoundCloud gue. Hanya itu. Gak ada lagi panggung atau lampu sorot. Gak ada lagi hingar bingar berisiknya checksound. Gak ada lagi backstage. Gak ada musik.

Gue nyaman dengan kerjaan gue sekarang. Meski gaji uang standard, tapi ‘gaji gak terlihat’ nya lumayan. Gue bisa travelling sekali setiap bulan, dan dibolehin untuk lanjut kuliah lagi. Waktu lumayan fleksibel. Sekarang gue ambil S2 di Atmajaya. Pas lagi nulis ini pun gue lagi nunggu jam masuk kuliah. hahaha

Tapi gue gak bisa selamanya bohong ke diri sendiri. Gue kangen. Gue kangen musik. Gue kangen ngeband. Gue kangen ngumpul di studio, sharing ide, adu argumen pas rekaman. Gue kangen lampu sorot, jingkrak-jingkrak di panggung. Gue kangen jadwal padat. Gue kangen pamer lagu baru. Gue kangen itu semua. Gue kangen.

Tapi gue juga terlalu kecewa untuk mengulang semua. Karena gue ngerasa kesempatan buat gue udah gak ada. Bukannya gue gak nyari atau gak coba ‘membuat kesempatan’. Gue nyoba. Tapi tanpa hasil.

Gue kecewa.

Tuhan menjawab doa dengan memberikan kesempatan.

Dan setiap gue bertanya ke diri gue sendiri tentang kesempatan bermimpi itu lagi, gue kembali kecewa.

Mungkin yang sekarang bisa gue lakuin hanya bersyukur. Gak ada pilihan baik lainnya. Gue gak mungkin jadi atheis karena itu. Gue cinta Tuhan gue, gue percaya Dia, tapi sejujurnya gue kecewa.

“Kenapa, Tuhan?”

Akan gue tunggu waktu dimana gue bisa maafin diri gue sendiri. Maafin semua yang pernah lewat, sehingga gue bisa berhenti kecewa; sehingga gue bisa berhenti bertanya “kenapa?”; sehingga gue bisa move on.

Selama gue menunggu, gue cuma bisa bersyukur.

🙂

“Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future.” – Paul Boese

By the way, kalian pernah kecewa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *