Paper Love Story

Paper Love #part2

Udah tiga bulan berlalu sejak kejadian di pantry waktu itu. Sejak hari itu, semua terasa sangat menyenangkan. Ya, semua.

Dari sisi kerjaan, gue udah mulai bisa beradaptasi dengan kondisi kerja gue yang dinamis. Sebagai salah satu Trainer di divisi Training, gue jadi sering bertemu dengan banyak orang dengan karakternya masing-masing. Tiap kelas yang gue isi selalu seru dan menantang, bahkan kadang absurd. Pernah suatu kali gue masuk ke dalam kelas untuk mulai ngasih materi produk. Kelas itu berisi sekitar tiga lusin orang yang berusia mulai dari 20-an awal hinggal 40-an akhir. Dan mereka sedang asik mengobrol. Berisik sekali. Gue masuk ke dalam kelas dan mereka masih asik mengobrol.

“Selamat pagi semuanya!”, sahut gue.

Mereka masih asik ngobrol.

“Suara gue gak kedengeran kayaknya”, pikir gue. Jadilah gue ucapkan salam sekali lagi dengan suara lebih kencang, “Selamat pagi semuanya!!!”.

Beberapa dari mereka menoleh beberapa saat, lalu kemudian kembali mengobrol. Fix. Gue dicuekin. KZL.

“WOY KAMPRET! JANGAN BERISIK!”

Seisi kelas shocked. Semua mendadak hening dan menoleh gue. Sebagian juga masih mangap.

“Ehem… Selamat pagi semuanya”, gue mencoba kembali menjaga wibawa.

“Selamat pagi” ucap mereka kompak.

“Nah gitu dong… Oke. Hari ini siapa yang tidak hadir training?”

“Sunyoto gak masuk, Pak”, sahut salah satu Trainee di barisan paling depan.

“Loh? Bukannya dia udah resign?” kata teman di sebelahnya.

“Bukan Sunyoto yang itu yang resign. Beda lagi” balas teman di sebelahnya lagi.

“Itu Sunyoto yang suka makan soto di depan kantor kan?” tanya teman di belakang teman yang disebelahnya lagi itu.

“Bukan. Sunyoto yang itu beda lagi. Ini yang suka makan ketoprak”, jawab teman di sebelah teman yang duduk dibelakang temannya teman dari teman-temannya.

“Jadi Sunyoto yang mana sih?” sahut teman dari teman di sebelah teman yang duduk dibelakang temannya teman dari teman-temannya. Mereka pun mulai menyahut satu per satu.

“Itu Sunyoto yang mau nikah lagi kan? Idih amati-amit muka begitu istrinya banyak. Padahal tuh ya dia itu…”

“Sunyoto punya utang tuh sama tetangga gue. Kemaren dicariin sampe ke luar kota, eh gak ketemu. Ohiya, gue sekarang jualan pulsa loh”

“Adek gue kenal tuh sama adek nya Sunyoto. Dulu satu SD di Pekalongan. Duh, jadi pengen pulang kampung”

“Emang ada yang namanya Sunyoto?”

“Lah lo siapa?”

“Eh lo tau gak si Sunyo—“

“STOOOOOOP!”, teriak gue. Lagi.

Sekelas kembali hening.

Kepala gue pusing banget dengerin orang-orang ini. Padahal baru pembukaan.

“Stop. Oke jadi gini aja. Anggep aja Sunyoto kembali ke alamnya. Dan tidak kembali lagi. Oke?”

“Oke, Pak” sahut mereka kompak.

“Baik, kita mulai saja kelasnya”

“Baik, Pak”

Ya begitu lah hari-hari gue disini. So far sih gue nyaman dengan pekerjaan ini. Dan bukan itu aja sih penyebab kenyamanan gue di sini. Penyebab lainnya adalah Feby.

Sekarang gue jadi lebih sering ketemu Feby. Sejak kejadian di pantry itu, gue udah beberapa kali memberanikan diri ngajak dia ngobrol. Meski percakapannya sejauh ini gak pernah lama. Hanya beberapa menit bertemu di lorong ruangan, atau sesekali gue mampir ke cubicle dia. Dan kayaknya gue belum bisa nemu timing waktu yang tepat buat ngajak dia ngobrol berduaan. Gue gak sehandal itu nyari moment ngajak ngobrol perempuan. Belum lagi masalah nervous gue tiap ketemu dia. Gue selalu deg-degan tiap ketemu dia. 

Beberapa kali juga gue ngajak dia jalan berdua, tapi sejauh ini belum pernah sukses. Ada aja halangannya. Halangan yang paling utama sih: pacarnya. Pacarnya super posesif. Feby memang belum pernah cerita secara langsung ke gue sih. Gue cuma dengar dari rumor ibu-ibu di kantor yang (katanya sih) pernah dicurhatin Feby.

“Pacarnya Feby tuh posesif banget deh. Kemaren Feby kan gak dateng Training untuk divisi Penjualan di luar kota cuma gara-gara pacarnya ngelarang. Soalnya di kelas itu Feby satu-satunya perempuan dan sisanya laki-laki. Lebay ah cowo begitu. Ngelarang-larang gitu”, ibu-ibu bagian accounting semangat bergosip bareng teman-temannya. Gue nguping. 

“Tapi Feby nya tetep nurut kan, bu?”, sahut seorang ibu yang lain.

“Iya sih. Dia tetap nurut. Mungkin terlanjur sayang kali ya”.

Gue tersenyum pahit mendengar kalimat itu. Terlanjur sayang ya? Gue sebenarnya kurang suka kalimat itu: Terlanjur Sayang. Terkesan gak tulus. Terkesan terpaksa. Terkesan tidak punya pilihan lain.

Padahal dia punya pilihan lain kok. Gue contohnya. Emangnya gue gak cukup qualified untuk jadi pilihan? Atau jangan-jangan, dia gak ngerasa gue sebagai pilihan?


“Hai Feb”, sapa gue. Feby menoleh dari layar monitor dan berhenti mengetik sejenak.

“Hei Nu!” Feby tersenyum. “Ada apa?”

“S-Sibuk ya? Aku ganggu?”

“Enggak kok. Enggak. Kenapa, Nu?”, jawab Feby dengan senyum nya yang spesial itu.

“Nanti sore ada acara?”

“Belum tau sih… Memang kenapa?”

“Gak kenapa-napa… hmmm…”, mendadak sifat pemalu gue kumat. I try my best to open my mouth, but nothing’s came out.

Feby menatap gue dan tersenyum, “Kenapa sih, Nu? Ada yang mau dibicarain?”

“Hmmm… A-Ada coffee shop baru… Enak disana tempatnya… Deket dari sini… Kamu ma-mau g-…”

“Iya aku mau”, kata Feby memotong kalimat gue yang terbata-bata. Dia menatap gue masih dengan senyumnya yang spesial itu. Gue terdiam beberapa saat.

“Ka-kamu mau?” gue kaget dengan jawaban dia. Tapi gue gak bisa menutupi rasa senang gue. Gue tersenyum. “Emang kamu tau aku mau nawarin apa? Kalau tadi aku nawarin prospek MLM gimana? Kalau aku ngajakin masuk sekte aliran sesat gimana?”

Feby tertawa. “Dasar kamu, Nu. Hahahaha… Iya aku mau kok diajak kamu kesana. Tapi ada satu syaratnya”

“Syarat?”, dahi gue berkerenyit, “Apa syaratnya?”

Feby berdiri beranjak dari kursinya dan mendekati tempat gue berdiri. Gue menarik nafas dalam-dalam dan mematung gak bergerak saking nervous nya. Feby berdiri sangat dekat sampai harum parfum nya tercium di hidung gue. Manis sekali. Seakan mengulang kejadian di pantry tiga bulan lalu, dia berdiri di depan gue dan tersenyum. Gue deg-degan.

“Syaratnya….. jangan pernah kaku kayak tadi kalau sama aku. Gak seru tau kalau kaku gitu”, ucapnya pelan.

Gue menghela nafas dan tersenyum. Feby benar. Gue terlalu kaku kayaknya. Gue membiarkan rasa nervous ini menguasai gue. Mendengar Feby bilang gitu, entah kenapa menumbuhkan keberanian gue untuk bisa lebih rileks. “Iya. Yaudah aku tunggu nanti di lobby ya”.

“Oke”, Feby tersenyum. “Sampai ketemu nanti, Nu”

“Iya, Feby”. Dan gue pun berjalan kembali ke cubicle gue. Tapi langkah gue rasanya agak berbeda. Ringan banget. Rasanya seperti melayang. Seperti kupu-kupu. There’s butterfly in my stomach.


Sore itu gue dan Feby pergi ke sebuah cafe di sekitaran Kelapa Gading. Namanya Teabags Coffee. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi comfy dan tidak terlalu ramai. Cukup nyaman untuk berbincang dan menghabiskan waktu berdua. Kami pun memilih tempat duduk di salah satu sudut cafe itu.

“Oooo ini tempatnya, Nu? Bagus juga ya” kata Feby sambil melihat-lihat sekeliling. Ornamen di cafe ini memang cukup sederhana dan tidak berlebihan. Aroma kopi pun langsung terasa sejak membuka pintu masuk.

“Iya tempatnya bagus. Simpel. Meski nama cafe nya ragu-ragu gitu. Teabags tapi jualan kopi”, sahut gue.

“Hahaha… Tapi tempatnya enak juga ya, Nu” kata Feby sambil melihat sekeliling.

“Iya nih. Gak terlalu ramai juga. Jadi enak buat berduaan”

“Berduaan? Mesum gitu?”

“Ma-Maksudnya ngobrol berdua! Hehehe…”, sahut gue cepat. Bisa-bisanya gue keceplosan di moment begini. Kalau sampai moment ini rusak karena ceplosan bodoh gue, gue akan nyesel banget. Gue harus jaga diri banget.

“Ooo… Okeee…” kata Feby. “Kamu mau minum apa?”

“Hot Cappuccino aja. Kamu?” 

“Wah! ada Lemonade ya disini? Aku pesen Lemonade aja kalau gitu”

“Gak mau ngopi?”

“Aku suka kopi sih. Tapi kalau di menu nya ada Lemonade, aku lebih pilih Lemonade. Aku suka yang minuman yang segar gitu soalnya. Rasanya itu menantang dan dinamis. Bikin gak ngantuk”

Gue tersenyum. “Kamu pilih minuman aja harus yang gak bikin bosen ya. Kamu bosenan ya anaknya?”

“Hahaha… Gak gitu juga sih. Abis, daripada bikin ngantuk, nanti ngobrol sama kamu nya jadi gak enak”, jawab Feby sambil tertawa kecil. “Kamu suka banget minum kopi ya?”

“Ya lumayan suka sih. Keliatan ya kalau aku suka kopi?”

“Nebak aja. Kenapa kamu bisa suka kopi?”

“Gak tau kenapa, kalau minum kopi ngerasa lebih tenang aja. Enak buat bikin pikiran tenang dan jadi lebih menikmati waktu aja”

“Hm…. Kayak kebalikan aku ya. Aku malah kalau tenang gitu malah jadi ngantuk”

“Gak kebalikan sih kayaknya. Ya selera kan beda-beda. Asal komunikasi lancar sih tetep cocok kok Lemonade sama Hot Cappucino”

“Hahaha… Maksudnya?” tanya Feby sambil tertawa kecil. “Modus nih kamu. Aku gak nyangka kamu udah lancar modusin aku. Gak pakai nervous lagi”

Gue hanya bisa tersenyum. Memang gue akui, sekarang gue lebih cair sama Feby. Nervous sih tetep; Entah kenapa gue deg-degan banget kalau dekat Feby. Tapi terlepas dari nervous yang gue rasain, gue mulai merasakan hal lain yang baru gue sadari: Kini kami makin dekat.

Dan ritual Hot Cappuccino-Lemonade ini pun berlangsung hingga beberapa bulan. Setiap hari rabu gue dan Feby ketemu sepulang kantor. Tetap di cafe yang sama, di tempat yang sama, dan minuman yang sama. Sampai pemilik cafe ini udah hapal banget sama kami. Mungkin kami dikenal sebagai pasangan irit. Mesen minumannya yang paling murah. 

Semakin sering gue ketemu Feby, gue semakin excited. Feby seakan membawa gue ke dunia baru yang gak pernah gue masuki. Perbedaan kami begitu terlihat jelas; Tapi itu juga yang menjadi motivasi gue untuk ingin semakin mengenal Feby. Gue jadi terobsesi sama dia. Gue ingin memiliki dia.

Dan seiring gue makin dekat dengan Feby, di dalam hati gue juga semakin khawatir. Feby kan masih punya pacar. 

Tapi kabar yang gue dapet hari itu cukup bikin gue kaget. Menurut info hasil nguping gue di kerumunan ibu-ibu rumpi di bagian accounting: Feby baru aja putus sama pacarnya!

Pagi itu gue berjalan cepat ke cubicle Feby. Gue pengen konfirmasi tentang gosip itu ke dia, tapi ternyata dia gak ada di cubiclenya. “Pasti di Pantry nih”, seru gue dalam hati. Gue langsung menuju Pantry. Dan ternyata benar. Feby sedang duduk di Pantry bersama secangkir teh hangat di tangannya.

“Hei Nu. Selamat pagi!” sapa Feby. Pagi itu dia mengenakan kaos dan cardigan serba hitam-hitam dengan kacamata nya yang agak kebesaran. Terlihat tidak seceria biasanya, namun tetap senyum indah itu melekat di wajahnya.

“Hei, Feby. Selamat pagi”

“Muka kamu kenapa? Kok kayak tegang gitu?”

“A-Ah. Enggak kok. Gak apa-apa. Hehehe… boleh aku duduk?”

“Boleh. Boleh… Sini duduk”

Gue duduk di sebelah Feby dan menatap wajahnya. Kantung matanya agak lebih besar dari biasanya, dan dia juga terlihat lelah seperti kurang tidur. Meski senyum di wajahnya tetap terpasang indah seperti biasanya, tapi kesedihannya merembes melalui senyumnya.

“Kenapa sih, Nu? Kok ngeliatinnya gitu banget? Aku jadi deg-degan. hehehe…”

“Aku dengar kalau… kamu putus sama pacar kamu. Itu benar?”

“Oooo… Jadi tentang itu….”

“Iya tentang itu… Ma-Maaf kalau aku tanya-tanya ke kamu tentang itu. Aku cuma mau mastiin kalau….”

“Kalau kenapa?”

“Kalau kamu baik-baik aja”

Feby menatap gue dan tersenyum perlahan, “I’m okay, Nu… Thank you…”.

“Are you sure?”

Feby terdiam sejenak. Bibirnya tersenyum kecil namun tatapannya kosong. Dia tampak sedang termenung dalam pikirannya sendiri.

“…. Nu”

“Ya?”

“Kamu pernah punya impian?”

“Impian?”

“Iya. Impian. Something you fight for; something you keep inside your heart; your dream. Kamu pernah merasakan yang begitu?”

“Hm…. Mungkin pernah”, jawab gue ragu-ragu. “Memang kenapa?”

“Aku punya impian yang gak pernah berani aku ingat-ingat, Nu”

“Loh? Kenapa?”

“Karena aku tau kalau impian aku itu egois”

“Memang apa impian kamu?”

“Aku gak tau pasti sih. Aku cuma ingin bebas. Aku ingin bisa keliling dunia, Nu. Aku ingin melihat dunia dengan mata aku sendiri. Aku ingin liat kota Paris dari ketinggian Eiffel; Aku ingin tau apakah rasanya berbeda dengan melihat ketinggian di Seoul Tower; Aku juga ingin tau bagaimana rasanya berdiri di puncak Everest; Atau bagaimana rasanya berjalan sore hari sambil liat langit warna-warni Aurora Borealis di Norwegia. Aku ingin merasakan itu semua, Nu”

“Wow… Cita-cita kamu keren ya….”

“Tapi egois”

“Egois? Bukannya impian itu memang harus egois ya?”

“Tapi aku sendiri belum pasti apa impian yang aku tuju sebenarnya. Aku hanya berpikir kalau aku melakukan itu semua, aku akan bisa menemukan apa yang aku cari. Tapi…

“Tapi…?”

“Tapi kalau aku lakukan itu semua, berarti aku harus melepaskan semua rutinitas ini”

“Memang hanya itu cara mencari tau apa yang kamu cari?”

“Aku gak tau cara lainnya”

“Hmmm…. susah juga ya….”

“Kamu punya impian, Nu?”

“Hm…. apa ya….”

“…..?”

“Hm…..”

“Nu…?”

“Gak ada kayaknya, Bi. Hehehe…”

“Gak ada? Masa sih? Kamu gak pengen jadi apa gitu suatu hari? Atau waktu kecil, kamu gak pengen jadi apa gitu?”

“Hmmm… Ada sih… Waktu kecil, kalau ditanya tentang cita-cita, aku selalu jawab pengen jadi tukang bubur”

“Tukang bubur? Maksudnya? Kamu suka bubur?”

“Gak juga sih. Itu karena dulu waktu aku kecil, ada tukang bubur yang sering lewat depan rumah aku setiap sore. Dan aku liat dia selalu happy tiap jualan bubur. Entah yang beli banyak atau gak banyak, dia tetap setia ngedorong gerobaknya tiap sore lewat depan rumah dengan senyum dan ceria. Dia sering banget ngajak aku becanda dan main. Dan ingatan itu membekas di aku. Aku mau jadi seperti dia. Tetap bisa ceria dan menghibur orang bagaimana pun keadaan aku”

Feby tersenyum. Gue tatap mata Feby yang mulai berair. Tampaknya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya tangis itu akan jatuh.

“Nu….”, Feby tersenyum dan beranjak dari kursinya. She hug me.

Gue kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan gue. Yang ada di pikiran gue cuma aroma harum rambutnya Feby yang manis, dan gue bisa mendengar detak jantung Feby. Dan meski gue gak melihat wajahnya, tapi gue tahu airmata Feby akhirnya jatuh. Untuk sesaat gue biarkan dia dalam posisi begini; biarkan dia habiskan tangisnya.

“Nu…”, kata Feby. Suaranya jadi agak sengau karena tangisnya.

“Ya?”

“Kok kamu deg-degan banget, Nu”, kata Feby sambil menahan tawa.

Gue jadi salah tingkah. Tapi posisi pelukan ini bikin gue gak leluasa bergerak. Apalagi Feby meluk gue makin erat. Gue makin salah tingkah lah digituin.

“Tuh kan makin cepet deg-degannya”, Feby makin kesulitan menahan tawa gelinya.

Gue cuma bisa diam sambil ikut menawan tawa. Tawa Feby pun akhirnya pecah seiring dia melepas pelukannya. Kami pun tertawa bersama.

“Thank you, Nu”, kata Feby sambil tersenyum menikmati sisa-sisa tawanya.

“Sama-sama, Feby”, jawab gue sambil membalas senyumannya.

“Well, can you promise me one thing?”

“Apa?”

“Please keep it as our secret, ya? Aku gak mau ada yang tau kalau…”

“Kalau kita pelukan?”

“Kalau aku nangis”

“Ooo… Hehehe.. Okay. I’ll keep it as our secret. Trust me” ujar gue.

“I trust you”, Feby tersenyum. Kemudian dia pamit untuk kembali ke cubicle nya, meninggalkan gue sendirian di Pantry.

Gue terduduk diam. Banyak hal yang ada di pikiran gue saat ini. Jantung gue masih berdegub dengan keras. Kupu-kupu di perut gue pun makin tidak terkendali.

Gue menghela nafas panjang dan berpikir, “kenapa harus selalu di Pantry ya?”

#paperlove #part2
Hot Cappuccino and Lemonade

continue to #paperlove #part3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *