The Inside You

Missing

Gue gak ingat pasti apa yang sebelumnya terjadi. Tapi begitu gue buka mata, gue ada di ruangan ini. Ruangan remang dengan satu-satunya penerangan dari lampu meja redup di sudut ruangan. Dengan minimnya pencahayaan seperti ini, gue menduga ini sudah malam. Entah udah berapa lama gue berbaring di satu-satunya kasur yang ada di ruangan ini, karena begitu gue coba bangun kepala gue sangat pusing dan terasa berat.

Gue coba duduk di tepi kasur dan melihat banyak frame foto tergantung di kamar ini. Dan itu foto gue. Terasa janggal melihat foto-foto itu begitu banyak disini. Terasa familiar, tapi juga terasa asing. Rasanya campur aduk.



Semakin lama gue melihat seisi kamar ini, semakin gue merasa pusing dan lelah. Seakan ada jutaan pertanyaan yang muncul di kepala gue dalam hitungan detik, namun sekian detik berikutnya semua pertanyaan tersebut terjawab, dan muncul pertanyaan baru, dan kembali terjawab. Begitu terus seperti ombak di laut yang terus menyapu tulisan yang ukir di pantai. Melelahkan.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu.

“Warno, makan malam sudah siap. Ayo makan” terdengar suara lembut dan hangat wanita dewasa dari balik pintu itu. That’s my mom.

“Iya, Bu. Nanti aku nyusul. Duluan saja”. Gak berapa lama terdengar suara langkah pelan menjauh.



Untuk sekian waktu setelah itu gue terdiam. 

Gue masih menikmati keheningan ini. Gue sangat menyukai berdiam. Ya, hanya diam. Tanpa melakukan apapun. Tanpa bicara, tanpa mendengar, tanpa melihat, dan yang terpenting sebisa mungkin tanpa memikirkan apapun. Hanya diam.

Gue percaya dengan diam, gue bisa mendengar suara yang selama ini terlewat, tertutupi, teredam oleh berisiknya dunia. Suara yang entah darimana tapi bisa memahami gue. Dan gak jarang memberikan jawaban atas pertanyaan gue. Dan mungkin itu adalah suara hati gue.




Nama gue Suwarno. Tahun ini usia gue 24 tahun. Gue baru pulang dari pekerjaan gue di Makassar. Gue menetap di sana. Pekerjaan gue di Makassar cukup bagus. Gue dapat promosi jadi Wakil Kepala Cabang di sebuah perusahaan elektronik. Posisi yang cukup menjanjikan untuk anak muda seumuran gue. Tapi ya itu… Jauh dari orang tua, adik, kakak-kakak, pacar dan teman-teman gue di Jakarta. Gue kangen banget sama mereka. Liburan kali ini gue menghabiskan cuti gue selama setahun untuk pulang. Dan sekarang gue udah di Jakarta lagi. 


Gue akui, gue homesick selama di sana. Gue ngerasa kesepian. Hampir 2 tahun gue gak pulang. Pekerjaan disana terlalu menyita waktu gue. Meski hampir tiap malam gue telepon keluarga dan pacar gue, tapi tetap terasa kurang. Gue pun bukan orang yang anti-sosial. Teman gue di Makassar banyak. Gue sering jalan-jalan, dugem, dan bahkan juga sempat punya pacar lagi di Makassar. Bukan karena pacar gue di Jakarta ada kekurangan, tapi karena gue kesepian disana. Alasan yang simple. Terkesan jahat dan brengsek, tapi bodo amat. Gue gak ambil pusing. 


Beberapa bulan terakhir, kesepian gue ini semakin menjadi-jadi. Gue penat dengan apa yang gue jalani. Jenuh dengan telpon tiap malam yang gue jalani; Jenuh dengan teman-teman yang gue ajak ketawa tiap hai; Jenuh dengan gadis-gadis yang menemani gue dan bermanja-manja dengan gue saat di club. Gue rasa gue homesick. Gue pengen pulang. Cuma pengen pulang. 


Dan sekarang gue udah rumah. Bangunan 3 lantai dengan design minimalis yang cukup ramai dengan tetangga yang ramah di sekitarnya, dan dihuni oleh Ayah, Ibu, dan Adik gue, sementara kakak gue di rumah mereka masing-masing; Ya ini lah rumah bagi gue selama ini.

Tapi….
Kenapa perasaan ‘sepi’ ini belom hilang ya?

Gue masih merasa ‘asing’.
Gue masih merasa perasaan yang sama kayak di Makassar.
Masa iya gue homesick di rumah sendiri?

Gila.
Gak mungkin.
Pasti ada yang salah. 

 


Tapi semakin gue coba cari jawabannya, semakin terasa salah. Semakin tidak terarah. Semakin salah. 
Gue seperti merindukan sesuatu. Sesuatu yang gue gak tau apa.Sesuatu yang mungkin bisa merubah definisi gue tentang ‘rumah’.Sesuatu yang mungkin bisa bikin gue tenang melebihi rasa nyaman yang dihasilkan oleh makan malam nyokap yang sekarang menunggu gue di ruang makan.Sesuatu yang mungkin lebih berarti dari keceriaan yang gue harap ada di rumah.Sesuatu yang entah dimana, dan gue gak tau apa.Atau….Sesuatu yang mungkin ternyata adalah seseorang. Gue gak tau pasti.






Gue terus terlarut dalam diam gue, berdialog dengan diri gue, dan tiba-tiba terhentak.

Ombak yang ada di pikiran gue tiba-tiba tenang. Laut yang menyapu pantai ini, kini seperti air di dalam mangkuk. Diam, tenang.



“Jangan-jangan memang gue gak punya sesuatu yang gue rindukan?” Gue berbisik lirih. 

“Gue sudah punya teman-teman, keluarga, pacar, kerjaan, semua ada. Apa yang kurang? Apa?”

“Am I missing something to miss?.. or Am I missing someone to miss? Am I ?”


Gue mencoba kembali diam. Mencoba dengar suara yang terlewatkan.
Tapi kali ini gak ada jawaban.
Ombaknya terhenti. Suara itu hilang.


Hati gue diam dalam diam.





26 Maret 2014. 9:37 PM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *