Paper Love Story

Tentang Dia, Piano, dan Kamu.

hei, lihat lelaki itu.

 

 

 

dia yang terdiam disana. duduk tenang, sambil sesekali meminum segelas latte di hadapannya.
tak banyak senyum jika dia duduk diam sendiri seperti ini.
tapi dia punya cukup banyak senyum untuk dibagikan jika kau bersamanya.
bahkan untukku, dia tak hanya tersenyum.

dia kadang tertawa, menggumam, menangis, dan sesekali marah.
dia cukup ekspresif. dan cukup romantis.
yaa… dia hanya manusia biasa.

aku…
adalah sahabatnya.

sahabat dari lelaki pendiam yang tampak bersahabat itu.
pembawaannya yang tenang mungkin dapat mengelabuimu.
dia tak setenang kelihatannya.
aku tau seberapa kencang ombak menderu di hati nya; erosi ketegaran hati.


tak banyak kata yang dia ucapkan untukku.
hanya sesekali dia ungkapkan betapa berharganya aku.
betapa dia senang menyapaku. menyanyikan lagu-lagunya bersamaku.
terkadang aku membantu nya menulis jeritan hati nya; memberi sekat pada tiap kata nya, dan merangkainya dalam birama.

pernah dia bercerita tentang jatuh cinta.
namun hanya beberapa yang aku ingat. salah satunya, cerita tentang bagaimana dia berjalan puluhan mil hanya untuk membuktikan cintanya.
meskipun selang hanya beberapa minggu kemudian dia patah hati. kekasihnya pergi meninggalkannya.
cukup menyedihkan ya?

sebenarnya dia lebih banyak bercerita tentang kegundahan. tentang badai.
badai yang tak peduli perubahan iklim global, dan tak bisa kau perkirakan kapan datang dan pergi.
badai itu ada di dalam hatinya.. dan pikirannya.
angin kencang merusak batas nalar nya.
hujan deras membasahi tiap jejak-jejak masa lalu yang ada; melubangi perlahan hati yang selama ini dia pertahankan.
dan terkadang puing-puing kenangan berterbangan kesana-kemari. kenangan-kenangan yang tak lagi utuh untuk dia ingat. tercecer. mengeruhkan kesabarannya yang perlahan menguap seperti air tenang dipadang pasir.

dan malam ini.
dia berjanji akan bercerita kepadaku.
entah kisah yang mana lagi yang akan dia ceritakan.
dan aku tak sabar..

🙂

aku suka caranya bercerita.
kali ini kisah yang tak berlirik.
tak terucap, namun terungkap.
ini adalah cara terbaik, disaat tak bisa mengonversikan perasaan ke dalam kata-kata.
mungkin perasaan ini terlalu dalam untuk diselami, hingga kata-kata itu sulit keluar dari pikirannya.
terlalu dalam.. tertahan pekatnya rasa.. kurangnya oksigen untuknya menghela nafas, walau sesaat..
terlalu dalam.. lebih dalam dari tak berdasar..

dia..

bertutur bukan dengan kata, tapi dengan nada.
merasakan denyut emosi nya melalui dinamika, tempo yang terjaga.
aku suka bagaimana dia merangkai pola kerangka cerita yang harmonis.
memadukan hitam dan putih dalam sebuah frase indah.
aku tak bosan mendengarnya.
dan ceritanya kali ini tentang… kamu.



dengarkanlah..




10 november 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *